Di Bandung, kopi bukan sekadar minuman pengusir kantuk. Kota ini dikelilingi pegunungan tempat kopi arabika tumbuh, dan banyak kedai kopi di sini menyajikan biji dari kebun-kebun di sekitarnya. Mengenal kopi Jawa Barat membuat setiap cangkir terasa lebih bermakna, baik Anda pencinta kopi sejati maupun baru mulai penasaran.
Artikel ini mengajak Anda berkenalan dengan arabika dataran tinggi Priangan, sejarah nama Java Preanger, cara ketinggian dan proses pascapanen membentuk rasa, hingga tips mencicipi dan memesan. Di bagian akhir, ada ide untuk menikmati kopi dengan santai di Artisan Coffee, Aksara Hotel.
Kopi Jawa Barat, Arabika dari Dataran Tinggi
Kopi Jawa Barat yang banyak dibicarakan para pencinta kopi umumnya adalah arabika, jenis kopi yang tumbuh baik di dataran tinggi berudara sejuk. Robusta juga ditanam di provinsi ini, biasanya di dataran yang lebih rendah, tetapi arabika dari pegununganlah yang membuat nama kopi Jawa Barat dikenal luas.
Kebun kopi tersebar di lereng-lereng gunung di wilayah Priangan, misalnya di Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Garut, Sumedang, dan Cianjur. Tanah vulkanik, curah hujan yang cukup, dan suhu yang sejuk memberi kondisi yang cocok bagi arabika. Di sejumlah tempat, kopi ditanam di bawah naungan pepohonan, berdampingan dengan hutan atau kebun warga.
Java Preanger, Nama Bersejarah Kopi Priangan
Preanger adalah sebutan pada masa kolonial Belanda untuk Priangan, kawasan pegunungan di Jawa Barat. Kopi mulai dibudidayakan di Jawa pada akhir abad ke-17, dan Priangan kemudian berkembang menjadi salah satu daerah penghasil kopi yang penting.
Di balik itu ada sejarah yang tidak selalu manis. Pada abad ke-18, warga Priangan diwajibkan menanam kopi dan menyerahkan hasilnya kepada pihak kolonial melalui para bupati, sebuah sistem yang dikenal sebagai Preangerstelsel. Kopi dari Jawa dikirim ke Eropa dan begitu dikenal sampai kata java dipakai sebagai sebutan sehari-hari untuk kopi dalam bahasa Inggris.

Kini nama Java Preanger dipakai lagi untuk kopi arabika dari dataran tinggi Priangan dan telah terdaftar sebagai indikasi geografis. Artinya, nama itu terikat dengan daerah asal kopinya.
Bagaimana Ketinggian dan Proses Membentuk Rasa
Rasa kopi dipengaruhi banyak hal, dari varietas, tanah, cuaca, dan cara panen sampai tingkat sangrai. Dua faktor yang paling sering dibahas adalah ketinggian dan proses pascapanen. Penjelasan berikut bersifat umum, karena setiap kebun dan setiap panen bisa berbeda.
Ketinggian Kebun
Di tempat yang lebih tinggi dan sejuk, buah kopi umumnya matang lebih lambat. Biji yang tumbuh perlahan cenderung lebih padat, dan kopi seperti ini sering punya keasaman yang lebih cerah serta rasa yang lebih berlapis. Meski begitu, ketinggian bukan jaminan, karena perawatan kebun dan pengolahan tetap menentukan.
Proses Pascapanen
Setelah dipetik, buah kopi diolah untuk memisahkan bijinya. Cara pengolahan ini ikut membentuk karakter rasa di cangkir:
- Full wash (washed): kulit dan lendir buah dibuang sebelum biji dikeringkan. Hasilnya biasanya bersih, ringan, dengan keasaman yang jelas.
- Natural: buah kopi dikeringkan utuh bersama kulitnya. Rasanya cenderung lebih manis dan lebih buah, dengan body yang lebih tebal.
- Honey: sebagian lendir buah dibiarkan menempel saat dikeringkan, sehingga karakternya berada di antara washed dan natural.
- Giling basah (wet hulled): proses yang umum di Indonesia, ketika kulit tanduk dilepas saat biji masih basah. Kopi seperti ini sering bertekstur tebal dengan nuansa tanah dan rempah.
Sebagian produsen di Jawa Barat juga bereksperimen dengan berbagai metode fermentasi, sehingga biji dari satu kebun bisa menghasilkan cangkir dengan karakter yang berbeda-beda.
Cara Mencicipi dan Memesan Kopi
Anda tidak perlu menjadi ahli untuk menikmati kopi dengan lebih saksama. Cobalah langkah sederhana berikut:
- Cium aromanya sebelum menyeruput, baik saat kopi masih panas maupun setelah sedikit dingin.
- Seruput sedikit dan biarkan kopi menyebar di mulut. Perhatikan keasamannya (segar seperti buah), rasa manis, dan pahitnya.
- Rasakan body, yaitu kesan ringan atau tebal kopi di lidah.
- Perhatikan aftertaste, rasa yang tertinggal setelah Anda menelan.
- Cicipi lagi saat kopi mulai hangat, karena rasanya sering berubah dan lebih terbuka saat suhunya turun.
Saat memesan, jangan ragu bertanya kepada barista: dari mana bijinya, proses apa yang dipakai, dan seperti apa rasanya. Jika ingin merasakan karakter biji, pilih kopi hitam seperti espresso atau americano, atau seduh manual bila tersedia. Jika lebih suka yang lembut, kopi susu tetap pilihan yang menyenangkan.
Menikmati Kopi di Artisan Coffee
Setelah berkenalan dengan kopi Jawa Barat, saatnya duduk dan menikmati secangkir. Artisan Coffee, coffee shop bergaya mid-century di lantai 2 Aksara Hotel, menyajikan minuman kopi dan non-kopi, camilan ringan, pastry, dan hidangan utama, semuanya halal. Coba Es Kopi Susu Pandan atau Butterscotch Coffee, dua menu favorit di sini, lalu pilih kursi di teras rooftop yang menghadap pepohonan Ciumbuleuit.
Penasaran dengan biji yang dipakai hari itu? Tanyakan saja di bar. Artisan buka pukul 08.00 sampai 22.00 pada Minggu sampai Kamis, serta 08.00 sampai 23.00 pada Jumat dan Sabtu, dan terbuka untuk umum. Simak suasananya di artikel ngopi santai di Artisan Coffee.
Bawa Pulang Cerita Kopi dari Bandung
Biji kopi dari kebun Jawa Barat bisa menjadi oleh-oleh yang menyenangkan untuk teman pencinta kopi. Saat membeli, perhatikan informasi asal biji, proses, dan tanggal sangrai pada kemasan. Ide lainnya ada di artikel oleh-oleh khas Bandung.
Ingin menjelajahi kopi Bandung selama beberapa hari? Menginaplah di Ciumbuleuit, sekitar 15 menit dari pusat kota tergantung lalu lintas. Setiap kamar dilengkapi ketel listrik dengan teh dan kopi untuk menemani pagi Anda. Lihat pilihan kamar dan pesan langsung di website.



